Sejarah & Legenda AC Milan

Dalam rangka perayaan euforia berdirinya 122 tahun AC Milan, berikut sejarah singkat dan sejumlah pemain legenda yang sempat membesarkan Rossoneri di dunia.

Sejarah Singkat AC Milan

Sejarah & Legenda AC Milan

AC Milan adalah legenda. Associazione Calcio Milan atau AC Milan, memiliki sejarah klub yang cukup panjang. Rossoneri merasakan perjuangan dari berbagai zaman. Dari Perang Dunia I, kemudian PD II, hingga terbentuk seperti sekarang.

Tapi, yang menarik dari perjalanan sejarah Slot Online Yang Sering Kasih Jackpot Milan adalah pendiri klub itu pada 16 Desember 1899, yaitu Herbert Kilpin (yang disebut “il Papa” atau “il Lord“) dan orang berkebangsaan Inggris bernama Alfred Edwards bersama sekelompok penggila sepakbola dan kriket.

Di sebuah kamar, di Hotel du Nord dekat Stazione Centrale (sekarang bernama Hotel Principe di Savoia, di Piazza Della Repubblica). Mereka membentuk Milan Football and Cricket Club. Dari hotel kemudian mereka membuka markas di sebuah toko minuman di Via Barchet, Milano.

Dari sinilah gemerlap perjalanan klub besar itu bergulir. Dua tahun berdiri yaitu pada 1901, Milan sudah memboyong gelar juara Liga Italia dengan mengalahkan klub yang saat itu sedang berjaya, Genoa. Milan kembali kampiun dengan merebut dua kali gelar berturut-turut pada 1906 dan 1907 dengan menumbangkan Juventus dan Torino.

Gelar ini merupakan yang terakhir sebelum Perang Dunia I meletus. Dari PD I hingga PD II yang berakhir pada tahun 1945, tidak ada yang istimewa dalam perjalanan Milan. Hanya pada 1929 sistem kompetisi Girone Unique (sekarang bernama Seri A) terbentuk, dan Milan pun masuk menjadi peserta.

Pemilihan warna dan design garis-garis pada seragam tim adalah buah karya dan warisan Kilpin hingga sekarang. Dan alam semesta pun sepertinya memang sudah dirancang bagi Kilpin dan Milan.

Warna Merah yang selalu dikaguminya sejak masih menjadi pemain Slot Gacor Garibaldi Nottingham, sangat cocok dengan impiannya yaitu mendirikan klub yang berisi “Diavolo”, yang sangat bernuansa Merah (api). Biasanya memang kebanyakan orang yang senang akan game slot gacor gampang menang ini akan senang kepada warna merah.

Sedangkan warna Hitam yang adalah warna kostum yang menjadi tradisi dalam kehidupan sosial di kota Milan, sangat sesuai dengan simbol “Ketakutan / Rasa Takut” yang dirasakan lawan saat berjumpa dengan “Si Setan Merah”.

Trio Swedia

Sejarah & Legenda AC Milan

Kedatangan tiga pemain Swedia, yaitu Gunnar Gren, Gunnar Nordhal dan Nils Liedhom memulai masa emas Milan. Mereka malang melintang membela Milan selama kurun waktu 10 tahun di era 1950-1960. Trio Swedia itu terkenal lewat julukan Grenoli yang merupakan kependekan dari nama belakang mereka.

Dari trio ini yang paling menonjol adalah striker Nordhal. Selama karirnya, ia berhasil mengemas 210 gol dari 257 pertandingan yang dijalani. Trio ini membawa Milan menjadi juara Seri A sebanyak tiga kali.

Gianni Rivera

Kehadiran Gianni Rivera, pemain yang dibeli Milan dari klub Alessandria dengan rekor bayaran 200.000 dolar membuat Rossoneri tidak goyah dari papan atas. Rivera ditemani oleh pemain depan Brasil, Jose Altafini, dan pemain tengah Uruguay masa itu, Schiaffino.

Di masa inilah untuk pertama kali Milan merebut gelar juara yang pada waktu itu masih bernama Piala Champion, yakni pada 1963. Kala itu Milan menumbangkan Benfica Lisabon 2-1 dengan dua gol diborong oleh Altafini. Kemudian berlanjut pada 1968, menjuarai scudetto dan Piala Winner. Lalu untuk Rivera, dia meraih gelar pemain terbaik Eropa.

The Dream Team

Masa emas Milan meredup pada 1980 setelah dua pemain dan presidennya ketika itu, Felice Colombo terlibat kasus taruhan atau kasus suap (Calciopoli). Hukuman yang harus mereka terima adalah turun ke Seri B. Saat itu Franco Baresi mulai bermain namun ia tidak terlibat kasus itu. Satu musim di Seri B dilewati oleh Milan.

Pembenahan dilakukan oleh pemilik sekaligus Presiden barunya, Silvio Berlusconi, yang ketika itu merupakan pengusaha besar media. Berlusconi membawa Roberto Donadoni, Paolo Maldini dan trio Belanda; Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard.

Sedangkan pelatih dipercayakan kepada mantan bintangnya asal Swedia, Nils Liedhom. Tapi, dibawah Liedhom, Milan kurang bersinar. Ia kemudian digantikan oleh Arrigo Sacchi.

Di tangan Sacchi dan trio Belanda, Milan kembali meroket, masa emas Milan era 1988-1990. Menjuarai Piala Champion dua periode berturut-turut. Prestasi dua kali berurutan itu sampai sekarang belum terulang lagi.

Bukan hanya menguasai Piala Champion, Milan juga menguasai Seri A dan dua gelar Piala Toyota (kejuaran dunia antar klub). Kala itu, Maldini dan Ancelotti masih bermain membela Milan.

Bukan mengecilkan arti pemain lain, namun Piala Champion 1988-89 bisa dikatakan menjadi milik Ruud Gullit dan Marco van Basten. Dua pemain ini, seolah menjadi daya tarik paling mencolok sepanjang pertandingan final di Stadion Camp Nou saat menaklukan tim yang waktu itu dianggap sebagai kekuatan baru, Steaua Bucharesti dengan skor 4-0.

Keperkasaan Milan pada final Piala Champion kembali berlanjut di tahun 1989-90, Milan menghempaskan Benfica 1-0. Frank Rijkaard lah pahlawan utamanya. Usahanya akhirnya berhasil dan menentukan kemenangan Milan.

Baresi dan kawan-kawan lebih dituntut untuk menang. Bukan saja sebagai juara bertahan, tapi sebelumnya dua klub Seri A, Sampdoria dan Juventus sudah lebih dulu pamer sukses meraih gelar Piala Winner dan Piala UEFA.

Pada tahun 1990 layak disebut sebagai tahunnya Italia. Fabio Capello mulai melatih Milan sejak 1991 saat Sacchi mulai menangani Gli Azzuri. Dibawah Capello Milan sukses merebut empat kali scudetto, dua Piala Super Italia, satu gelar Liga Champion dengan menumbangkan Barcelona 4-0 dan satu Piala Super Eropa.

Hebatnya pada 1992 Milan meraih scudetto tanpa mengalami kekalahan satu pun dan memiliki julukan termahsyur, The Invicibles.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *